Bojonegoro – Pembangunan jaringan irigasi sekunder yang dilakukan pihak Balai Besar Wilayah Sungai( BBWS) Kabupaten Bojonegoro dari Anggran APBN tahun 2023 , sangat mendukung peningkatan kesejahteraan petani dalam penggunaan air ditingkat bawah, Namun dalam pelaksanaan pekerjaan pihak Balai Besar Wilayah Sungai ( BBWS) Kabupaten Bojonegoro ada dugaan tidak sesuai juknis,hal ini lantaran pekerjaan yang berjalan saat ini disinyalir banyak penyiasatan.
Dalam pantauan wartawan di salah satu lokasi di wilayah aliran sungai di Desa Pejambon Kecamatan Sumberejo yang saat ini dikerjakan (3/3/23), beberapa pekerja menyebut dirinya bekerja atas perintah dari rekanan seperti bahan baku yang didatangkan dan teknis pemasangan hingga tenaga kerja hampir semuanya dari pihak kontraktor.
Pemasangan batu yang dilakukan jauh dari kata bagus, ada dugaan tidak sesuai spesifikasi teknik mengingat pekerjaan yang dilakukan untuk campuran sangat minim, nampak seperti batu yang ditata saja, selain itu, batu yang digunakan untuk landasan bawah yakni batu bekas bangunan lama dicampur dengan batu merah yang kuat dugaan untuk menyiasati pembelanjaan.
Desas desus program renovasi jaringan sekunder tersebut ada dugaan pemotongan yang fantastis per titik yakni mencapai 40% , dengan adanya hal tersebut pekerjaan sekunder banyak indikasi kecurangan.
Seperti yang disampaikan salah satu sumber ( di Redaksi) Pekerjaan sekunder tersebut seharusnya dilakukan dengan cara swakelola, yakni seharusnya pihak Dinas PU SDA BBWS Kabupaten Bojonegoro bekerja sama dengan HIPPA maupun GHIPPA yang ada dibawah dan melaksanakan kegiatan renovasi jaringan irigasi sekunder, namun fakta dilapangan ada pihak ketiga yakni rekanan yang ditunjuk untuk mengerjakan, dan HIPPA maupun GHIPPA hanya sifatnya dibuat nama saja. Kalau swakelola harusnya pihak Dinas dan HIPPA maupun GHIPPA yang mengerjakan bukannya malah menunjuk pihak rekanan sebagai pelaksana kegiatan” tuturnya.
Menanggapi perihal pekerjaan jaringan sekunder yang saat ini berjalan,Sutrisno selaku pengamat irigasi UPT PU-PSDA Kabupaten Bojonegoro saat ditemui Pada (3/3)23) menjelaskan, Swakelola ini type dinas kita bayar kepada CV terkait pengadaan bahan material, kalau soal pekerja dibawah kepada HIPPA atau GHIPPA. jadi semua pekerjaan ini tetap melibatkan warga setempat dan juru masing-masing” ucapnya.
Soal bahan matreal yang memakai batu merah bukan hitam, itu memang kami sarankan menggunakan bahan baku lokal dan batu hitam itu didalam siaran tetap kita gunakan sebagai tampak depan dalam pekerjaan sekunder yang saat ini berjalan, dan kalau soal campuran akan kita perbaiki kedepannya” tukasnya.
Sementara, Kamid selaku HIPPA Desa Pejambon saat dikonfirmasi wartawan ini pihaknya tidak terlibat sepenuhnya pada pekerjaan tersebut, semua sudah diawasi pihak rekanan yang ditunjuk , saya hanya membantu dokumentasi dan mencarikan pekerja saja mas” Kata Kamid.












