BOJONEGORO – Langkanya tabung Gas Elpiji bersubsidi dengan berat 3 kg membuat sejumlah Ibu- ibu rumah tangga dan UMKM, utamanya warung makan dan gorengan semakin kelimpungan. Satu – satunya jalan supaya mereka tetap bisa memasak dengan mengambil alternatif menggunakan kayu bakar atau rencek .
Tadi pagi di wilayah Kecamatan Kanor ,Pada 08 /06 /2023 pihak Pertamina melakukan operasi pasar dengan pendistribusian Elpiji sebanyak 560 tabung dengan sasaran warga miskin dan pedagang kaki lima.
Dengan operasi pasar tabung gas elpiji ukuran 3 kg membuat masyarakat sedikit terbantu. Masing – masing warga yang datang dapat jatah 2 tabung ukuran 3 kg dengan harga Rp. 16 .000 / tabung sesuai HET .
Ibu Sartini warga Kanor yang juga penjual gorengan kepada Media ini mengatakan, bahwa sudah seminggu lebih kebingungan untuk mendapatkan gas Elpiji ukuran 3 kg , sempat mencari di toko maupun agen juga tidak di dapatkannya sehingga harus berhenti untuk berjualan . Punya keinginan untuk beralih ke kayu bakar namun juga sulit untuk mendapatkannya karena jauh dari hutan mas ” ungkapnya.
Pantauan media di lokasi, dalam waktu sekejap tabung melon ludes jadi keroyokan ibu – ibu rumah tangga yang sudah rela antri di lokasi.
Kelangkaan Gas Elpiji ukuran 3 kg ini juga hampir terjadi di beberapa Kecamatan termasuk Kecamatan Bubulan dan Kecamatan Temayang.
Sementara, Sulasih warga Ngorogunung Kecamatan Bubulan ketika di tanya awak media ini mengatakan , bahwa untuk mendapatkan satu tabung gas elpiji ukuran 3 kg harus merogoh kocek Rp .21.000 . Padahal sebelum kelangkaan terjadi hanya seharga Rp .18.000 di toko pengecer.
Saya berharap harga ini jangan di naikkan terus kasihan Kami rakyat kecil , berpenghasilan tidak tetap harus menanggung biaya tambahan hanya untuk kebutuhan memasak ” keluhnya.
Terpisah, Ibu Emi pemilik Toko di Bakulan Temayang juga mengeluh dengan melambungnya harga Gas Elipiji 3 kg yang di kirim oleh agen, Kasihan juga kepada pelanggan yang dulu kami dapat kiriman dengan harga Rp 17 .000 , dan Kami Jual ke pelanggan dengan harga Rp 18 .000 ,sekarang dari Agen sudah seharga Rp 20 .0000 jadi kami jual Rp 21 .000 .
Semoga Pemerintah tetap peduli pada Masyarakat yang ada di pinggiran ini dan Pemerintah Daerah Bojonegoro juga mendengar keluh kesah warganya ” harapnya. ( ag / red ).












