BOJONEGORO – Laga Semifinal turnamen sepak bola Putra Bangsa Cup II 2026 di Lapangan Desa Talun, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, berakhir ricuh. Laga antara Tunas Sakti Pejambon melawan Karangdowo dihentikan permanen pada menit ke-25, Kamis, 20/8/2026.
Keputusan menghentikan pertandingan diambil setelah pemain dan offisial Tunas Sakti Pejambon memilih mundur. Mereka merasa tidak mendapat kepastian dari wasit dan panitia terkait sebuah insiden yang terjadi di lapangan.
Kericuhan bermula saat pertandingan baru berjalan 15 menit. Seorang pemain Tunas Sakti Pejambon diduga dipukul oleh pemain Karangdowo FC di tengah lapangan.
Wasit yang memimpin laga disebut kesulitan mengambil keputusan cepat. Kondisi ini memicu ketidakpuasan dari pemain, offisial, hingga penonton.
Masalah bertambah karena Video Assistant Referee (VAR) yang diklaim sebagai teknologi pertama di turnamen tarkam Bojonegoro, tidak dapat merekam dan menayangkan insiden tersebut.
“VAR diduga tidak berfungsi, tidak bisa terdeteksi kejadian. Wasit tidak bisa ambil keputusan dan tidak profesional. Turnamen Putra Bangsa Cup II ini telah mencoreng olahraga sepak bola,” ujar salah satu penonton.
Saat insiden terjadi, skor sementara 1-0 untuk keunggulan Karangdowo FC. Protes penonton semakin ramai hingga sebagian turun ke pinggir lapangan. Panitia akhirnya menghentikan pertandingan untuk mencegah kericuhan meluas.
Penonton yang merasa dirugikan menuntut pengembalian uang tiket pada panitia. Menghadapi tekanan massa, panitia Putra Bangsa Cup II akhirnya menyetujui pengembalian biaya tiket kepada penonton yang terlanjur kecewa atas insiden tersebut.
Lebih lanjut, sejumlah penonton juga melontarkan tuduhan adanya praktik perjudian di sekitar pertandingan.
“Kami berharap KONI Bojonegoro bisa langsung turun ke lapangan untuk menindaklanjuti permasalahan ini. Jangan sampai olahraga ini ternoda oleh kepentingan di luar permainan,” tegas seorang penonton.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari panitia penyelenggara maupun KONI Bojonegoro terkait insiden tersebut.
Insiden ini menjadi catatan bagi turnamen yang sebelumnya mengangkat penerapan teknologi VAR. Ke depan, profesionalisme penyelenggaraan, keamanan pemain, dan prinsip fair play menjadi sorotan utama agar turnamen sepak bola tidak ternodai dengan insiden di lapangan.(Red)












