BOJONEGORO – Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bojonegoro menggelar diskusi bersama pemerhati lingkungan bertajuk Ngopi Bareng Pemerhati/Peduli Lingkungan di Kedai Tiga Jaya, Bojonegoro, Rabu (01/07). Kegiatan ini merupakan upaya memperkuat sinergi dengan berbagai elemen masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan dan mengantisipasi potensi bencana ekologis di wilayah Bojonegoro.
Diskusi mengangkat tema opini “Alarm Bencana Ekologis Dimulai dari Bojonegoro Selatan” dan dihadiri Administratur KPH Bojonegoro beserta jajaran, pemerhati lingkungan Dian Martha Yuana, warga Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, yang juga aktif di ICMI Orda Bojonegoro, Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro, serta mahasiswa program pascasarjana.
Berbagai isu strategis dibahas dalam forum tersebut, mulai dari kondisi kawasan hutan, pelestarian lingkungan, pengelolaan sumber daya alam, hingga dampak perubahan tutupan lahan terhadap fungsi ekologis hutan. Diskusi berlangsung terbuka sebagai wadah bertukar gagasan dan mencari solusi bersama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Administratur (ADM) Perhutani KPH Bojonegoro, Slamet Juwanto, menegaskan bahwa pelestarian hutan memerlukan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, menjaga fungsi ekologis hutan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana, seperti melestarikan sumber mata air, melakukan penanaman pohon, dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya hutan sebagai penyangga kehidupan.
“Hutan memiliki peran vital sebagai penyangga kehidupan. Karena itu, menjaga kelestariannya tidak bisa dilakukan Perhutani sendiri, tetapi membutuhkan dukungan seluruh pihak. Kami mengajak pemerhati lingkungan, akademisi, organisasi masyarakat, media, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menjaga hutan demi keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang,” ujar Slamet.
Sementara itu, Dian Martha Yuana mengapresiasi inisiatif Perhutani yang membuka ruang dialog bersama masyarakat. Menurutnya, komunikasi yang terbuka menjadi langkah penting dalam merespons berbagai persoalan lingkungan yang semakin kompleks.
Ia menyoroti semakin berkurangnya tutupan tanaman kehutanan akibat dominasi tanaman pangan semusim di sejumlah kawasan hutan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menurunkan fungsi ekologis hutan apabila tidak diimbangi dengan upaya rehabilitasi dan penanaman kembali tanaman kehutanan.
“Melalui opini Alarm Bencana Ekologis Dimulai dari Bojonegoro Selatan, saya ingin mengajak semua pihak lebih peduli terhadap kondisi lingkungan. Hutan bukan hanya menghasilkan kayu, tetapi juga berfungsi sebagai penyimpan air, pengendali erosi, penyerap karbon, dan penyangga kehidupan. Saya siap bersinergi bersama Perhutani dalam membangun kesadaran masyarakat agar fungsi ekologis hutan tetap terjaga,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa kebijakan pengelolaan kawasan hutan saat ini telah mengalami perubahan. Sebagian kawasan telah masuk dalam skema Kawasan Hutan dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK) yang berada di bawah kewenangan pemerintah. Meski demikian, seluruh pihak memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga kelestarian hutan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mempertahankan fungsi ekologis kawasan hutan.
Melalui kegiatan Ngopi Bareng ini, Perhutani KPH Bojonegoro berharap sinergi dengan pemerhati lingkungan, akademisi, organisasi kemasyarakatan, dan berbagai elemen masyarakat semakin kuat sehingga mampu melahirkan gagasan serta aksi nyata dalam menjaga kelestarian hutan dan mencegah terjadinya bencana ekologis di wilayah Bojonegoro. ( ag / red )












